Sabtu, 20 Agustus 2011

Masyarakat Sipange di Tapanuli Selatan, Masyarakat Sekitar Hutan yang Sangat Membutuhkan Pendampingan untuk Memecahkan Masalah "Sosial, Pasar, dan Bahan Baku" Sebagai Upaya Mempertahankan Namanya Sebagai Desa Industri Kreatif


APA KABAR PARA “MPU” KITA DI DESA SIPANGE ..???
(Oleh: Bapak Ir. Mahmulsyah Daulay/Paman Dari Haqqi Daulay, S.Hut.) 

Setiap tahun pada Hari raya Idul Adha, masyarakat diberbagai belahan dunia termasuk Indonesia melaksanakan kegiatan pemotongan hewan qurban.   Dalam proses pemotongan hewan qurban tersebut  ada yang dilakukan oleh tenaga profesional atau “tukang jagal”.  Cara ini biasanya terdapat di instansi-instansi atau lembaga pemerintah.  Namun tidak sedikit masyarakat melaksanakan pemotongan dengan cara bergotong-royong, hal ini biasa di temui di tengah-tengah pemukiman atau komplek-komplek perumahan.  Masyarakat atau warga di lingkungan tempat tinggal “penulis” di bilangan Jakarta melaksanakan pemotongan hewan qurban dengan cara bergotong-royong.  Karena di lakukan dengan bergotong-royong, maka pengadaan peralatan potong hewan qurban dilakukan secara gotong royong pula.  Ada yang membawa pisau, parang (golok). kapak dan lain sebagainya.  Untuk kegiatan ini “penulis” biasanya membawa pisau dan parang atau golok atau lading.  Dan pada kesempatan seperti ini,  pisau  dan lading yang penulis punyai selalu diminati warga untuk memakainya.  Menurut testimony mereka, pisaunya lebih tajam dan parangnya lebih kuat tidak meleot.  Mereka penasaran darimana memperoleh pisau dan parang sebagus itu.  Penulis bilang “ pisau dan parang ini di buat oleh pengrajin besi di Desa Sipange Kabupaten Tapanuli Selatan”,   Ingatan  penulis langsung menerawang jauh menembus ribuan kilometer    ke Desa Sipange  dan membayangkan  salah satu desa tempat para “Mpu” pandai besi yang masih eksis sampai sekarang di Tapanuli Selatan.
Secara Administratif,  Desa Sipange  termasuk dalam Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan .  Sebelum pemekaran wilayah desa ini termasuk ke dalam Kecamatan Batang Angkola Kabupaten Tapanuli  Selatan.  Desa ini terletak pada jalur lintas  Sumatera, di lintasi jalan Negara  sehingga dari sisi akses tidak ada hambatan yang berarti. Sebagian besar masyarakatnya berusaha di bidang pertanian dalam arti yang luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan ) dan kerajinan pandai besi.  Desa ini sekitar 60 km dari ibukota kabupaten (ibukota kabupaten sekarang berada di Sipirok) dan kurang lebih 450 km dari bukota provinsi.
Penulis belum menemukan informasi yang pasti sejak kapan masyarakat Desa Sipange memiliki keahlian dan kepandaian  mengolah besi menjadi berbagai jenis peralatan.  Jenis perlatan yang di produksi antara lain: parang, arit, kored, cangkul, dan lain sebagainya.   Namun  keahlian sebagai pandai besi telah lama dan sudah turun-temurun di masyarakat Desa Sipange.  Untuk  memperoleh angka resmi jumlah pengrajin sampai saat ini  masih menemui kesulitan untuk  memperolehnya.   Namun terlepas  berapa jumlah pandai besi saat ini,  informasi dari berbagai sumber menyebutkan bahwa ada kekhawatiran   akan eksistensi pandai besi di desa Sipange saat ini.  Dari segi sumber daya manusia, anak- anak muda Desa Sipange sekarang ini sudah mulai enggan menjadi pandai besi.   Mereka lebih tertarik pergi merantau keberbagai daerah. Dari segi bahan baku,  bahan baku besi yang berkualits semakin sulit diperoleh, kalaupun ada harganya semakin mahal, sehingga harga jual hasil produksi kurang bersaing dan terakhir dari segi pemasaran, pemasaran hasil produksi tidak pasti



 
Salah Satu Sentra Kerajinan Besi di Desa Sipange Kecamatan Sayurmatinggi Kabupaten Tapanuli Selatan (Sumber : http://akhirmh.blogspot.com/2012/02/industri-bahan-logam-di-tapanuli-bagian.html)


Beberapa saat yang lalu Pemerintah Kabupaten telah memberikan perhatian kepada para pengrajin di Desa Sipange, antara lain berusaha membuka pasar melalui kerjasama dalam hal pengadaan alat-alat pertanian seperti arit, parang panjang dengan PTPN yang berdekatan  dengan wilayah Sipange.  Akan tetapi belakangan diketahui kerjasama tersebut tidak berjalan  sebagaimana mestinya.  Analisa Pemkab saat itu bahwa secara teknik masih rendah singga kalah bersaing dengan produk sejenis  dari Cina dan segi  sosial masyarakat memang tidak mendukung masyarakat pandai besi di Sipange untuk maju..
Penyiapan masyarakat Sipange agar bisa terus meningkatkan kualitas produk kerajinan pandai besinya , kelihatannya merupakan  pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pemerintah kabupaten agar para “Mpu” yang masih ada di desa Sipange bisa terus bertahan, selain jaminan pasar dan bahan baku.  Kalau tidak hal  tersebut tinggal menjadi catatan sejarah bahwa di Desa Sipange Kabupaten Tapanuli Selatan pernah memiliki  para “Mpu”.

3 komentar:

  1. alhamdulillah..teman2 fakultas kehutanan IPB sering meminjam parang Saya, karena sangat tajam dan kuat....

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus